Ayyub As-Sikhtiyani: Pedagang Kulit yang Menjaga Langit Ilmu dan Bumi Dagang Sekaligus

Tabiin Preneur | Kisah Keteladanan

Biografi Singkat

Ia adalah Al-Imam Ayyub bin Abi Tamimah As-Sikhtiyani — salah seorang pemuka Tabi’in yang lahir di Basrah pada tahun 66-68 H, bertepatan dengan tahun 685 Masehi. Nama “As-Sikhtiyani” yang melekat di belakang namanya bukan gelar kebangsawanan, melainkan identitas profesinya sebagai pedagang kulit hewan — sebuah pengingat bahwa kemuliaan seorang ulama tidak pernah menghalanginya untuk bekerja dengan tangannya sendiri. Ibtimes + 2

Guru-gurunya adalah deretan nama besar di kalangan Tabi’in — Muhammad bin Sirin, Al-Hasan Al-Basri, Mujahid bin Jabr, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Nafi’ maula Ibnu Umar, hingga Atha’ bin Abi Rabah. Dari meja dagang ke majelis ilmu, Ayyub menjalani dua dunia sekaligus dengan penuh integritas. Ia wafat pada tahun 131 H/748 M ketika terjadi wabah di Basrah, meninggalkan jejak keilmuan yang abadi dalam sejarah Islam. IbtimesTritimes


Kisah Perjalanan Ayyub As-Sikhtiyani

Ayyub As-Sikhtiyani tumbuh di Basrah — kota yang pada masanya menjadi salah satu pusat perdagangan dan keilmuan Islam yang paling ramai. Di kota inilah dua dunia bertemu dalam dirinya: dunia pasar yang penuh transaksi dan tawar-menawar, serta dunia majelis ilmu yang penuh ketenangan dan renungan. Dan tidak seperti kebanyakan orang yang hanya memilih satu di antara keduanya, Ayyub memilih untuk hidup di keduanya — secara penuh, dengan integritas yang konsisten di setiap sudutnya.

Sebagai pedagang kulit hewan, ia menjalani profesinya bukan karena terpaksa atau karena tidak ada pilihan lain. Ia seorang ulama yang disegani, murid dari tokoh-tokoh terbesar zamannya — dan ia sangat bisa saja memilih mengandalkan rasa hormat masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun Ayyub menolak jalan itu. Ia memilih berdagang, bekerja dengan tangannya sendiri, menjaga kemandirian ekonominya agar tidak pernah bergantung pada belas kasihan siapa pun.

Namun yang paling menakjubkan dari sosok Ayyub bukanlah kemampuannya berdagang, melainkan cara ia menjaga dirinya dari bahaya yang paling halus: cinta popularitas. Ketika berjalan bersama sahabatnya Hamad bin Zaid dan ada jalan pintas yang lebih dekat, Ayyub justru memilih jalan yang lebih jauh. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab, “Aku menghindari majelis itu.” Rupanya, ketika Ayyub memberi salam di majelis tersebut, orang-orang menjawab salamnya dengan penghormatan yang lebih dari biasanya. Dan hal itu tidak disukainya. Seorang ulama yang sengaja mengambil jalan memutar hanya untuk menghindari pujian — inilah sosok yang sesungguhnya langka di setiap zaman. Kompas

Keteladanan tawadhu-nya juga tampak ketika ditanya persoalan yang belum ia kuasai. Alih-alih memaksakan jawaban demi menjaga wibawa, ia dengan tenang berkata, “Tanyakan pada ulama!” Dan ketika didesak untuk berpendapat, jawabannya tetap konsisten, “Belum sampai padaku masalah ini.” Kejujuran ilmiah ini, di tengah godaan untuk terlihat serba tahu, adalah salah satu warisan terbesar yang ia tinggalkan. Kompas

Dalam soal penampilan dan gaya hidup, Ayyub juga mendobrak stigma bahwa ulama harus tampak miskin untuk dianggap zuhud. Ia memiliki makanan yang cukup, minuman yang banyak, pakaian yang indah, dan penampilan yang layak — namun semua itu dijalani dalam bingkai keikhlasan, jauh dari kesombongan. Ayyub menggabungkan antara kezuhudan batin dan kecukupan lahir — sebuah keseimbangan yang sangat relevan, bahkan untuk entrepreneur di era modern sekalipun. Kompas


Prinsip-Prinsip yang Diterapkan Ayyub As-Sikhtiyani

Pertama, kemandirian ekonomi adalah fondasi kebebasan.
Ayyub berdagang bukan karena miskin, melainkan karena ia memahami bahwa seorang yang mandiri secara ekonomi tidak akan pernah tunduk pada tekanan pihak lain dalam menyampaikan kebenaran. Dagangannya adalah perisainya.

Kedua, zuhud bukan berarti miskin.
Ayyub tidak membuat-buat seolah dirinya zuhud dengan tampilan miskin. Ia menggabungkan antara kezuhudan dan kekayaan dalam bingkai ikhlas — kekayaan bukan tujuan, tapi juga bukan sesuatu yang harus dihindari. Kompas

Ketiga, hindari ketergantungan pada pujian.
Salah satu prinsip paling kuat yang ia pegang adalah menjaga diri dari jeratan popularitas. Dalam dunia usaha, ini berarti membangun bisnis yang berdiri di atas nilai dan kualitas — bukan semata-mata pada citra dan pengakuan publik.

Keempat, jujur dalam keterbatasan adalah kekuatan, bukan kelemahan.
Sikapnya yang terbuka mengakui “belum sampai padaku masalah ini” mengajarkan bahwa integritas lebih berharga daripada kesan serba bisa. Dalam dunia bisnis, ini adalah fondasi kepercayaan jangka panjang.


Kontribusi Besar bagi Peradaban Islam

Riwayat hadits Ayyub As-Sikhtiyani termuat dalam semua enam kitab hadits utama — Kutub As-Sittah — sebuah pencapaian yang hanya diraih oleh segelintir perawi hadits sepanjang sejarah Islam. Kontribusinya dalam menjaga dan meriwayatkan hadits Nabi ﷺ menjadikannya salah satu mata rantai paling penting dalam rantai sanad keilmuan Islam yang terus bersambung hingga hari ini. Tritimes

Lebih dari itu, Ayyub mewariskan sebuah teladan yang sama pentingnya dengan ilmunya: bahwa seorang ulama bisa sekaligus menjadi seorang pengusaha yang jujur, tanpa satu pun dari keduanya harus mengorbankan yang lain. Di zamannya, Al-Hasan Al-Basri menyebutnya sebagai “Sayyid syabab ahlil Bashrah” — tuannya para pemuda di seantero Basrah — sebuah pengakuan yang melampaui batas disiplin keilmuan semata. Ibtimes


Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini

Kisah Ayyub As-Sikhtiyani adalah cermin yang sangat relevan bagi para pelaku usaha di era modern — justru karena ia hidup di persimpangan antara ilmu dan bisnis, dan berhasil menjaga keduanya dengan sangat baik.

Pertama, bangun kemandirian finansial sebagai pondasi integritas. Ketika seorang entrepreneur tidak bergantung pada satu pihak tertentu, ia memiliki kebebasan untuk berkata jujur, menolak transaksi yang meragukan, dan menjaga prinsipnya tanpa takut kehilangan nafkah.

Kedua, jangan biarkan kesuksesan bisnis menumbuhkan kesombongan. Ayyub yang sengaja mengambil jalan memutar untuk menghindari pujian adalah pelajaran bagi setiap pengusaha yang mulai terlena dengan popularitas mereknya.

Ketiga, akui keterbatasan dengan kepala tegak. Dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, pengusaha yang berani berkata “saya belum tahu, mari kita pelajari bersama” jauh lebih dipercaya daripada mereka yang berpura-pura serba tahu.

Keempat, kecukupan yang berkah lebih baik dari kekayaan yang menggerus jiwa. Ayyub mengajarkan bahwa standar hidup yang layak adalah hak setiap orang — termasuk ulama dan orang saleh — selama harta itu diperoleh dengan cara yang benar dan dikelola dengan niat yang lurus.


Daftar Pustaka

“Ayyub As-Sikhtiyani.” Wikipedia Bahasa Indonesia, diakses Juni 2026. “Hidup dengan yang Halal: Kisah Ayyub As-Sikhtiyani.” Atsar.id, Oktober 2022. “Kisah Ayyub As-Sakhtiyani Rah.a (Tabi’in).” Canggile Blog, April 2010. Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A’lam An-Nubala. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1985. Ibnu Katsir. Al-Bidayah wa An-Nihayah. Beirut: Dar Al-Fikr, 1990. Al-Hasyimi, Abdul Mun’im. Kisah Para Tabi’in. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008. Asy-Syinawi, Abdul Aziz. Biografi Tabi’in dan Tabi’iyat. Solo: Zamzam, 2014.


Artikel ini merupakan bagian dari seri Tabiin Preneur — menggali jejak kewirausahaan para Tabi’in sebagai inspirasi bisnis berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Scroll to Top