Tabiin Preneur | Kisah Keteladanan
Biografi Singkat
Said bin Musayyab memiliki nama lengkap Abu Muhammad Said Ibn Musayyab bin Hazn bin Wahhab al-Quraisyi al-Makhzumi al-Madani, lahir pada tahun 15 H di kota suci Madinah. Ia tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang luar biasa — guru-gurunya banyak dari kalangan sahabat senior seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, dan Aisyah Ummul Mukminin. Bahkan, ia menikah dengan putri Abu Hurairah — bukan semata karena cinta, melainkan karena kedudukan mertuanya di sisi Rasulullah ﷺ dan kekayaan riwayat hadits yang ingin ia serap langsung dari sumbernya. Facebook + 2
Said bin Musayyab dikenal sebagai ahli zuhud, ahli ibadah, dan sosok pemberani yang tidak mau menerima pemberian dari siapa pun. Ia mencukupi seluruh kebutuhannya dengan berdagang minyak dan dijuluki Faqih Al-Fuqaha — ahli fikih di antara para ahli fikih. Beliau wafat di Madinah pada usia 79 tahun, tahun 94 H/715 M, pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. HadanaislamicBrilio.net
Kisah Perjalanan Said bin Musayyab
Di balik sosok ulama besar yang disegani seluruh penguasa zamannya, Said bin Musayyab adalah seorang pedagang minyak zaitun yang memulai usahanya dari modal yang ia kelola dengan penuh kehati-hatian. Tercatat ia memiliki modal perniagaan senilai 400 dinar, dan dengan modal itulah ia menjalankan usaha dagangnya — bukan jumlah yang kecil, namun juga bukan kekayaan yang membuatnya lupa diri. Persis
Yang membuat kisah entrepreneurnya benar-benar istimewa bukan sekadar pada bagaimana ia membangun usaha, melainkan pada bagaimana ia menjaga prinsipnya di tengah tekanan dan godaan yang datang dari arah yang tidak terduga — dari penguasa. Imran bin Abdillah berkata, “Said bin Musayyab tidak pernah menerima sedikitpun pemberian — satu dinar atau pun satu dirham — baik itu dari orang biasa ataupun penguasa.” Kebutuhan hidupnya ia dapatkan dari berdagang minyak. Prinsip ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan fondasi kebebasan intelektual dan moral yang ia jaga sekuat tenaga. Pengusahamuslim
Ujian terbesar datang dalam bentuk yang paling menggiurkan: Said bin Musayyab memiliki hak atas harta yang ada di Baitul Mal sebanyak tiga puluhan ribu. Ia diundang untuk mengambilnya, namun ia menolaknya. Ia berkata, “Aku tidak membutuhkannya, hingga Allah berkenan memberikan keputusan yang adil antara aku dan Bani Marwan.” Bukan ia tidak membutuhkan uang — ia pedagang yang hidup dari hasil tangannya sendiri. Tapi menerima harta dari penguasa yang tidak ia setujui kebijakannya berarti membuka pintu ketergantungan yang kelak bisa melemahkan suaranya dalam menyampaikan kebenaran. Kisahmuslim
Sikap independennya bahkan menjadi legenda ketika penguasa tertinggi sekalipun tidak mampu menundukkannya. Said bin Musayyab adalah ulama yang berani menolak panggilan Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan justru meminta khalifah untuk mendatanginya apabila berkeperluan. Dan puncak dari seluruh cerita keberaniannya: putrinya yang bernama Ribab dilamar oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk putranya Al-Walid — yang kelak menjadi khalifah berikutnya — namun Said justru menikahkan putrinya dengan muridnya sendiri, Abdullah bin al-Wada’ah. Seorang pedagang minyak zaitun menolak menjadikan putrinya menantu khalifah — sebuah keberanian yang hanya bisa lahir dari jiwa yang benar-benar merdeka, jiwa yang tidak bergantung pada kekuasaan untuk memenuhi hidupnya. Brilio.netTazkia
Prinsip-Prinsip yang Diterapkan Said bin Musayyab
Pertama, kemandirian finansial adalah syarat kebebasan berbicara. Said memahami betul bahwa siapa yang makan dari tangan penguasa, lidahnya pun akan sulit bergerak bebas. Dagangnya bukan sekadar sumber nafkah, melainkan perisai yang menjaga integritasnya tetap utuh.
Kedua, tolak semua pemberian yang berpotensi menciptakan ketergantungan. Sikapnya yang menolak menerima hadiah dan mencari nafkah sendiri dengan berdagang minyak menjadi teladan bagi banyak orang — bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang ia terima, melainkan oleh seberapa bersih yang ia hasilkan. Sttbetheltheway
Ketiga, ilmu adalah modal yang tidak boleh dijual. Said menjaga fatwa dan ilmunya agar tidak pernah dipengaruhi oleh siapa yang memberinya makan. Ini adalah prinsip yang sama relevannya bagi seorang konsultan, analis, atau profesional di era modern — independensi intelektual dimulai dari independensi finansial.
Keempat, pilihan bisnis adalah pernyataan sikap. Dengan memilih berdagang minyak zaitun — komoditas rakyat yang jujur dan sederhana — Said menyampaikan pesan tanpa kata: bahwa ia adalah bagian dari masyarakat, bukan bagian dari istana.
Kontribusi Besar bagi Peradaban Islam
Said bin Musayyab termasuk salah satu dari Tujuh Fuqaha Madinah, kelompok ulama pilihan yang menjadi rujukan hukum Islam di kota Nabi. Beliau terkenal dengan penguasaan luar biasa atas hadits, fikih, zuhud, dan wara’, hingga ia pernah menyatakan, “Tidak ada lagi orang yang masih hidup yang lebih mengetahui tentang keputusan-keputusan yang pernah diputuskan oleh Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar, selain aku.” Brilio.net + 2
Dari didikan Said bin Musayyab, lahirlah murid-murid yang menjadi ulama besar di zamannya, seperti Muhammad bin Syihab al-Zuhri, Yahya bin Sa’id al-Anshari, dan banyak lagi. Lebih dari itu, model hidupnya sebagai pedagang yang menjaga integritas keilmuan menjadi standar moral yang terus dibicarakan lintas generasi — bahwa antara dunia dan akhirat, antara pasar dan masjid, bisa dijalani secara berdampingan tanpa salah satunya mengorbankan yang lain. Pengusahamuslim
Pelajaran untuk Entrepreneur Masa Kini
Kisah Said bin Musayyab adalah pelajaran yang sangat relevan bagi para pelaku usaha di era modern, di mana godaan untuk berkompromi dengan kekuasaan dan uang sering kali datang dalam kemasan yang sangat menarik.
Pertama, bangun bisnis yang cukup kuat untuk menopang hidupmu, agar kamu tidak pernah tergoda menjual prinsipmu demi sesuap nasi yang lebih enak. Kemandirian finansial bukan soal kemewahan — ia adalah soal kebebasan.
Kedua, hati-hati dengan pemberian yang tampak gratis. Setiap hadiah besar dari pihak yang berkepentingan selalu datang dengan harga tersembunyi — berupa loyalitas, diam di saat harus bersuara, atau kompromi yang perlahan menggerus integritas.
Ketiga, reputasi yang dibangun di atas kejujuran jauh lebih tahan lama dari reputasi yang dibangun di atas koneksi. Said bin Musayyab dikenang bukan karena ia dekat dengan khalifah, melainkan justru karena ia berani menjaga jarak darinya.
Keempat, keberanian memilih jalan yang lebih sempit namun lebih benar adalah ciri entrepreneur sejati. Menolak lamaran khalifah untuk putrinya, memilih murid yang sederhana namun berakhlak — ini adalah keputusan bisnis terbaik dalam skala kehidupan: investasi pada nilai, bukan pada jabatan.
Daftar Pustaka
“Sa’id bin al-Musayyib: Penghulu Para Tabiin.” Markaz Sunnah, 30 Agustus 2021. “Said bin Musayab.” Wiki Aswaja NU — Laduni.id, diakses Juni 2026. “Said bin al-Musayyib.” Maktabah Online Abu Namira, Desember 2011. “Sa’id bin Al-Musayyab, Tokoh Pembesar Tabi’in.” Abu Zahra Hanifa Blog, Februari 2015. “Biografi Singkat Tokoh Tabi’in Pakar Hadis dan Fiqih Said bin Musayyab.” Bangkit Media, Mei 2020. Adz-Dzahabi, Syamsuddin. Siyar A’lam An-Nubala, Jilid 4. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1985. Al-Mizzī, Yusuf bin Abdirrahman. Tahzib Al-Kamal fi Asma’i Al-Rijal, Vol. 11. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1980. Al-Hasyimi, Abdul Mun’im. Kisah Para Tabi’in. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2008.
Artikel ini merupakan bagian dari seri Tabiin Preneur — menggali jejak kewirausahaan para Tabi’in sebagai inspirasi bisnis berlandaskan nilai-nilai keislaman.