Syekh Nawawi al-Bantani: Profesor Besar Masjidil Haram yang Jasadnya Menolak Membusuk

Gambar 1: Syekh Nawawi al-Bantani

Biografi Singkat

Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani, atau dikenal pula sebagai Abu Abdul Mu’ti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani, lahir pada tahun 1813 Masehi (1230 Hijriah) di Kampung Tanara, sebuah desa kecil di pesisir utara Kabupaten Serang, Banten. Ayahnya, Syekh Umar bin Arabi al-Bantani, adalah seorang ulama lokal di Banten, sementara ibunya bernama Zubaedah, seorang ibu rumah tangga biasa. Jabar Media OnlineQotrunnada-depok

Pendidikan agamanya dimulai sangat dini. Sejak usia lima tahun ia sudah belajar ilmu agama langsung dari ayahnya, mempelajari dasar bahasa Arab, fikih, tauhid, Al-Qur’an, dan tafsir bersama saudara-saudara kandungnya. Pada usia delapan tahun, ia berguru kepada K.H. Sahal, salah seorang ulama terkenal di Banten saat itu, lalu melanjutkan belajar kepada Syekh Baing Yusuf Purwakarta. Kecerdasannya sudah terlihat sejak kecil — sebelum genap berusia lima belas tahun, ia telah mengajar banyak orang hingga harus mencari tempat di pinggir pantai agar lebih leluasa menerima murid yang terus bertambah. Qotrunnada-depok + 2

Pada 1855 M, ia kembali ke Mekkah dan tinggal dalam waktu yang cukup lama untuk memperdalam ilmu. Namanya semakin tersohor ketika ia menggantikan Syekh Khatib Minangkabawi sebagai Imam Besar Masjid al-Haram, dan sejak itu ia dikenal dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi. Beliau adalah ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, dengan jumlah karya tidak kurang dari 115 kitab yang meliputi bidang fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Berkat kepakarannya, ia menyandang gelar al-Sayyid al-‘Ulama al-Hijaz (Tokoh Ulama Hijaz). Syekh Nawawi wafat pada 25 Syawal 1314 H (sekitar 1897 M) di usia 84 tahun dan dimakamkan di Pekuburan Ma’la di Mekah, bersebelahan dengan makam Asma binti Abu Bakar al-Siddiq, putri dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Uin-antasari + 4


Kisah Paling Berkesan: Jasad yang Menolak Membusuk

Di pemakaman Ma’la, Mekkah, berlaku sebuah aturan ketat dari pemerintah setempat. Setiap kuburan yang sudah berusia satu tahun akan dibongkar — tulang-belulangnya diambil dan dipindahkan ke luar kota agar liang lahat bisa dipakai untuk jenazah berikutnya. Kebijakan ini berlaku tanpa pandang bulu, baik untuk pejabat maupun orang biasa, baik saudagar kaya maupun orang miskin. NU Online

Setahun setelah Syekh Nawawi wafat, giliran makamnya pun didatangi para petugas penggali kubur. Namun yang mereka temukan jauh dari yang dibayangkan. Mereka tidak menemukan tulang-belulang seperti biasanya. Yang ada di hadapan mereka adalah satu jasad yang masih utuh — tidak kurang sedikit pun, tidak lecet, tanpa tanda-tanda pembusukan sebagaimana lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain kafan putih yang membungkus tubuhnya pun tidak sobek dan tidak lapuk sama sekali. NU Online

Kejadian ini membuat para petugas sangat terkejut, bahkan merasa tidak percaya. Mereka segera berlari mendatangi atasannya untuk melaporkan apa yang mereka temukan. Mereka kebingungan, sebab apa yang ditemukan sama sekali tidak sesuai dengan yang seharusnya — hanya berupa tulang-belulang. Liputan6NU Online

Setelah diteliti lebih lanjut, barulah diketahui bahwa makam yang dibongkar itu adalah milik seorang ulama besar: Syekh Nawawi al-Bantani. Penemuan ini menjadi bukti bahwa beliau bukanlah orang biasa. Pemerintah Arab Saudi pun segera merespons dengan mengeluarkan kebijakan khusus — pembongkaran dihentikan, dan jasad Syekh Nawawi dikuburkan kembali dalam kondisi semula. Liputan6

Hingga kini, keistimewaan itu masih terasa. Makam Syekh Nawawi al-Bantani di Mekkah dikenal sebagai satu-satunya makam yang subur, ditumbuhi rumput hijau yang indah, sesuatu yang jarang ditemukan di pemakaman lain di kota itu. Portal Jember

Ada pula kisah lain yang sering disandingkan dengan peristiwa ini. Suatu kali, dalam perjalanan menunggangi unta di tengah kegelapan, Syekh Nawawi sedang menulis syarah kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali ketika lampu minyaknya padam. Beliau berdoa, bila kitab itu dianggap penting dan bermanfaat bagi umat Islam, beliau memohon kepada Allah agar diberikan cahaya untuk melanjutkan menulis. Tiba-tiba jempol kakinya mengeluarkan api dan bersinar terang, sehingga beliau bisa menyelesaikan syarah tersebut hingga tuntas — dan bekas terbakarnya membekas permanen di jempol kakinya. Bekas itu bahkan kemudian menjadi alasan beliau ditolak ketika Pemerintah Hijaz memanggilnya untuk dijadikan tentara, meski badannya tegap. NU OnlineViva


Peran dan Pengaruh dalam Masyarakat

Pengaruh Syekh Nawawi terhadap dunia keilmuan Islam Nusantara sangat luas dan mengakar hingga kini. Sumbangan terbesarnya dalam bidang pendidikan dapat dilihat pada pengembangan pesantren — ia banyak menyediakan bahan ajar pada kurikulum pesantren melalui karya-karyanya yang hingga kini masih eksis. Uinfasbengkulu

Dari halaqahnya di Mekkah, lahir murid-murid yang kemudian menjadi tokoh penggerak bangsa. Di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Syekh KH Mas Abdurahman (pendiri Mathla’ul Anwar), KH Kholil Bangkalan, dan KH Asnawi Kudus. Kedekatan emosional murid-muridnya dengan Syekh Nawawi pun sangat dalam — KH Hasyim Asy’ari dikenal sering menangis tak kuasa menahan haru setiap kali mengajarkan kitab Fath al-Qarib karya gurunya itu kepada para santri di Tebuireng. Sindo NewsRamaloka

Karya-karyanya juga menjadi fondasi keilmuan yang dipegang lembaga-lembaga pesantren tradisional. Karya-karyanya sangat berjasa dalam mengarahkan mainstream keilmuan yang dikembangkan di lembaga-lembaga pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Dua murid lainnya juga melanjutkan perjuangannya di tanah kelahiran: Syekh Kholil Bangkalan dengan pesantrennya di Madura turut berperan besar dalam penyebaran karya-karya Nawawi, begitu juga Syekh Abdul Karim yang dikenal dengan nama Syekh Ageng, tokoh sentral tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Jawa Barat. WordPressGoogle Sites

Tak hanya itu, para ulama Indonesia menggelarinya sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia — sebuah pengakuan atas peran besarnya dalam membentuk tradisi keilmuan pesantren Nusantara yang masih hidup hingga generasi ulama masa kini. Sindo News


Sumber: Liputan6.com — “Kisah Jenazah Syekh Nawawi Al Bantani Utuh ketika Makamnya Dibongkar” (Desember 2024); NU Online — “Kagetnya Pemerintah Arab Saudi saat Membongkar Makam Syekh Nawawi” (Maret 2026); NU Online Lampung — “Kisah Syekh Nawawi: Kaki Bisa Menyala, Jasadnya Tetap Utuh” (April 2025); Portal Jember — “Karomah Syekh Nawawi al Bantani: Jasad Tetap Utuh hingga Makamnya Subur Ditumbuhi Rumput Hijau” (Agustus 2022); Sindonews — “Karomah Syekh Nawawi Al Bantani Buyut KH Ma’ruf Amin” (Februari 2017); Kuwaluhan.com — “Kumpulan Kisah Karomah Syaikh Nawawi dari Banten” (Januari 2019); Jabar Media Online — “Syekh Nawawi Al-Bantani: Biografi Lengkap Sang Ulama Dunia” (Januari 2026); Pondok Pesantren Qotrun Nada — “Biografi Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani”; Pustaka Pejaten — “Syaikh Nawawi al-Bantani”; Ramaloka FM Serang — “Syekh Nawawi Al-Bantani”; Jurnal Tsaqofah dan Tarikh UIN FAS Bengkulu — “Biografi Intelektual Syekh Nawawi al-Bantani”.

Scroll to Top