Syekh Tahir Jalaluddin: Ulama Nusantara yang Menatap Langit untuk Menjawab Pertanyaan Bumi

Kategori: Ulama Nusantara | Kisah Teladan

Gambar 1: Syekh Tahir Jalaluddin

Biografi Singkat

Syekh Tahir Jalaluddin Al-Azhari lahir di Cangking, Agam, Sumatra Barat, pada Selasa, 4 Ramadhan 1286 H atau 8 Desember 1869 M. Ketika lahir, ia diberi nama Muhammad Tahir bin Muhammad bin Jalaluddin Ahmad bin Abdullah. Ayahnya, Jalaluddin, adalah seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah terkenal di Minangkabau. Namun ketika Tahir berusia dua tahun, sang ayah meninggal dunia. Sindo NewsRepublika

Ibunya, Gandam Urai, adalah kakak kandung dari Limbak Urai — ibunda Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Artinya, Tahir adalah sepupu dari Syekh Ahmad Khatib, sang imam besar Masjidil Haram. Pada 1298 H/1881 M, Tahir berangkat ke Makkah bersama keluarganya untuk menunaikan haji. Di sana ia tinggal bersama Syekh Muhammad Saleh Al-Kurdi, belajar mengaji kepada Syekh Abdul Haq di madrasah Asy-Syaikh Rahmatullah, serta mempelajari berbagai bidang ilmu: nahwu, sharaf, ma’ani, badi’, mantik, fikih, hadits, tafsir, geometri, dan ilmu falak. LaduniLaduni

Syekh Tahir kemudian belajar di Al-Azhar, Mesir, pada tahun 1893–1897, dan selama di sana ia banyak dipengaruhi oleh karya dan pemikiran Syekh Muhammad Abduh. Setelah menuntaskan belajarnya di Al-Azhar, Tahir sempat kembali ke Makkah untuk memperdalam ilmu dan membantu Ahmad Khatib mengajar, khususnya ilmu falak. Pada saat itu, Tahir menjadi guru bagi pelajar-pelajar dari Minangkabau, seperti Muhammad Jamil Djambek dan Abdullah Ahmad. Ia meninggal dunia di Kuala Kangsar, Perak, Malaysia, pada Jumat, 22 Rabiulawal 1376 H/26 Oktober 1956 M, dalam usia 87 tahun. NU Online + 2


Kisah Keteladanan: Berani Berbeda dari Mayoritas demi Sebuah Kebenaran Ilmiah

Di antara seluruh kisah tentang Syekh Tahir Jalaluddin, satu kisah yang paling mencerminkan keteladanannya adalah keberaniannya mengambil posisi yang sangat sulit — berseberangan dengan mayoritas ulama di kampung halamannya sendiri, demi sesuatu yang ia yakini sebagai kebenaran ilmiah.

Sekembalinya ke tanah Minang, Syekh Tahir Jalaluddin dihadapkan pada perseteruan antara kelompok tua yang masih memegang tradisi dan ritual nenek moyang dengan kelompok muda yang berpikir pembaharu. Syekh Tahir, yang merupakan bagian dari kelompok muda, mendapat pertentangan keras. Ia dianggap tidak sesuai dengan tradisi karena memulai puasa dengan memakai ilmu hisab dan ilmu falak, bukan rukyah seperti ulama terdahulu. Wikipedia

Bayangkan posisinya: ia adalah sepupu dari ulama paling dihormati di Minangkabau — Syekh Ahmad Khatib, imam Masjidil Haram. Ia lulusan Al-Azhar. Ilmunya tidak diragukan. Namun ketika ia mengusulkan metode hisab — perhitungan astronomi — untuk menentukan awal Ramadhan, bukan rukyat yang sudah dipraktikkan ulama-ulama terdahulu selama ratusan tahun, penolakan datang dari segala arah.

Pemikirannya dianggap tidak sesuai dengan tradisi karena memulai puasa dengan ilmu hisab dan ilmu falak, bukan dengan rukyat — melihat anak bulan dengan mata — seperti yang banyak dipraktikkan ulama terdahulu. Sindo News

Namun yang membuat Syekh Tahir berbeda dari sekadar “pembangkang tradisi” adalah caranya merespons penolakan itu. Ia tetap memantapkan pendiriannya dengan tetap memperdalam ilmu falak dan astronomi. Ia tidak menyerang balik para ulama yang menentangnya, tidak memaksakan pandangannya melalui kekuasaan — ia justru memilih jalan yang lebih sunyi namun lebih produktif: memilih mengembara ke beberapa wilayah di Tanah Melayu seperti Minangkabau, Riau, hingga Singapura dan Kelantan, kemudian menumpang sebuah kapal layar menuju Siantan, Kepulauan Anambas, bersama Syekh Muhammad Nur bin Syekh Ismail Al-Khalidi Al-Minangkabawi. WikipediaWikipedia

Ia tidak menunggu kampung halamannya menerima pendapatnya — ia membawa ilmunya berkeliling, mencari ruang baru di mana ilmu itu bisa tumbuh dan diterima. Pemikirannya terinspirasi dari ide-ide modernis para reformis Timur Tengah: Jamal ad-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Salah satu pemikirannya yang kontroversial adalah dukungannya terhadap hisab dalam penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan — mendobrak pandangan populer yang menggunakan rukyat sebagaimana pendapat para ulama terdahulu. Pengawal


Peran dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat

Tahir Jalaluddin adalah tokoh gerakan reformasi Islam di Semenanjung Malaya dan Indonesia lewat penerbitan pers serta sekolah agama modern. Ia dikenal atas kepeloporannya memperkenalkan pemakaian hisab dalam penentuan awal bulan pada penanggalan Hijriyah di Nusantara — sebuah metode yang kini menjadi salah satu rujukan resmi pemerintah dan organisasi Islam besar di Indonesia dan Malaysia. RepublikaArrahim

Sebelum Syekh Tahir Jalaluddin, sejatinya telah ada sejumlah ulama yang menguasai ilmu falak seperti Muhammad Nur bin Nik Mat Kecik (Fathani), Jamil Jambek (Minangkabau), Abdullah Fahim (Pulau Pinang), dan Abu Bakar bin Hasan (Johor). Namun Syekh Tahir-lah yang membawa ilmu ini ke tahap baru — menjadikannya gerakan reformasi yang sistematis melalui pers dan pendidikan modern, bukan sekadar ilmu yang dikuasai segelintir orang. NU Online

Di Malaysia, peranan Syekh Tahir Jalaluddin dalam pengembangan kajian astronomi Islam sangat besar — ia terkenal pada masanya sebagai tokoh astronomi Islam yang sangat berpengaruh, sejajar dengan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Ahmad Rifa’i Kalisalak, dan KH Sholeh Darat. Wikipedia


Warisan Peninggalan

Untuk mengenang jasanya, didirikan Pusat Falak Syekh Tahir di Balik Pulau, Pantai Aceh, Pulau Pinang, Malaysia. Sebuah lembaga bernama Sheikh Tahir Astronomical Center didirikan di Pulau Pinang, Malaysia, untuk mengenang jasa-jasanya. WikipediaArrahim

Warisan yang lebih besar dari sekadar bangunan adalah murid-muridnya. Beberapa pelajar Minangkabau yang pernah diajarinya — seperti Muhammad Jamil Djambek dan Abdullah Ahmad — kelak menjadi tokoh-tokoh penting dalam gerakan pembaruan Islam di Sumatera Barat, meneruskan ide-ide tajdid yang ditanamkan Syekh Tahir. Metode hisab yang dahulu ditolak mentah-mentah oleh ulama kampung halamannya, kini menjadi salah satu metode resmi yang digunakan organisasi-organisasi Islam besar di Indonesia untuk menentukan awal bulan Hijriyah — sebuah pembuktian bahwa kebenaran ilmiah, meski ditolak pada masanya, bisa diterima oleh generasi setelahnya. Arrahim


Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia — Tahir Jalaluddin Al-Azhari; Kompas.com — “Biografi Tahir Jalaluddin: Tokoh Gerakan Reformasi Islam” (Juli 2022); Republika Online — “Syekh Tahir Jalaluddin Al-Azhari, Ulama Astronomi dari Tanah Melayu (1) dan (2)” (Agustus 2015); Langgam.id — “Syekh Tahir Jalaluddin: Ulama Ahli Astronomi, Mengembara hingga Semenanjung Malaka” (Mei 2020); GoSumbar.com — “Syekh Tahir Jalaluddin Al-Azhari, Putra Minang Pelopor Astronomi di Asia Tenggara” (Desember 2015); Ensiklopedia Sejarah Indonesia, Kemdikbud — “Tahir Jalaluddin”; Hamka — Ayahku (1982); Hasril Chaniago — 101 Orang Minang di Pentas Sejarah (2010); Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi — Dari Minangkabau untuk Dunia Islam (otobiografi).

Scroll to Top