Urwah bin Zubair: Tabiin Preneur yang Membuka Pagar Kebunnya saat Panen Tiba

Biografi Singkat

Urwah bin Az-Zubair dilahirkan setahun sebelum berakhirnya kekhilafahan Umar Al-Faruq, dari keluarga paling terpandang di kalangan kaum muslimin. Ayahnya Az-Zubair bin Al-Awwam adalah sahabat dekat Rasulullah SAW dan salah satu dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga. Ibunya Asma binti Abu Bakar bergelar Dzatun Nithaqain — pemilik dua ikat pinggang — karena ia merobek ikat pinggangnya dua saat hijrah untuk mengikat bekal Rasulullah. Blogger

Urwah bin Az-Zubair adalah salah satu dari tujuh ulama fikih terkemuka di Madinah. Dari tujuh ulama fikih Madinah tersebut, Abu Nu’aim menggambarkan Urwah sebagai seseorang yang permintaannya selalu dikabulkan, sanggup menahan beban derita demi mendapatkan ilmu, selalu berusaha taat dan menahan cobaan hingga pantas mendapatkan kehormatan karenanya. Detik Hikmah

Ia adalah orang pertama yang menulis tentang masalah Al-Maghazi — peperangan dalam Islam — dan menjadi salah seorang dari sepuluh ulama Madinah yang selalu menjadi rujukan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Urwah bin Az-Zubair meninggal dalam usia 67 tahun dalam keadaan berpuasa. IslamposMaskanulhuffadz


Kisah Paling Mashur: Kebun yang Pagarnya Dirobohkan Sendiri saat Panen Tiba

Di antara seluruh kisah tentang Urwah bin Zubair, satu kisah yang paling berkesan dan paling mencerminkan jiwa preneur sekaligus keteladanannya adalah tentang kebunnya — sebuah aset produktif yang cara pengelolaannya tidak pernah terlintas di benak kebanyakan pemilik harta.

Urwah bin Az-Zubair adalah orang yang dermawan, mulia, dan murah hati. Ia tidak pernah pelit mengeluarkan hartanya. Ia pernah menggali sumur di Madinah dengan tangannya sendiri — dan tidak ada air yang lebih segar dari sumur tersebut. Penduduk Madinah pun bebas mengambil air darinya. Kompas

Namun yang paling menggugah adalah kisah kebunnya. Urwah bin Zubair memiliki sebidang kebun yang luas di Madinah — airnya tawar dan segar, pepohonannya rindang, buahnya lebat dan merah, pohon kurmanya menjulang tinggi. Ia memagari kebunnya selama setahun untuk menjaga agar pohon-pohonnya terhindar dari gangguan binatang dan keusilan anak-anak. Bimakota

Inilah jiwa preneur yang sesungguhnya: ia merawat asetnya dengan sungguh-sungguh, menjaganya dengan disiplin, memeliharanya hingga mencapai puncak produktivitas. Namun yang terjadi saat panen tiba adalah sesuatu yang mengejutkan.

Ketika sudah datang waktu panen, buah-buahnya siap dipetik dan siap dimakan, ia menghancurkan sendiri pagar kebunnya di banyak arah supaya orang-orang mudah memasukinya. Maka mereka pun masuk, datang dan kembali untuk memakan buah-buahnya dan membawanya pulang dengan sesuka hati. Blogger

Setiap kali memasuki kebunnya, Urwah selalu mengulang-ulang firman Allah dalam Surat Al-Kahfi ayat 39: “Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu: Masya Allah, laa quwwata illa billah — sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.” Liputan6

Ia membangun pagar untuk merawat, bukan untuk memiliki. Ia menjaga kebun untuk menumbuhkan, bukan untuk menimbun. Dan ketika musim panen tiba, ia meruntuhkan pagarnya sendiri — agar seluruh manfaat yang ia rawat setahun penuh itu bisa dinikmati oleh semua orang.

Namun kisah Urwah tidak berhenti di kebun. Ujian terbesar dalam hidupnya justru menguji bukan hartanya, melainkan raganya. Saat kakinya harus diamputasi karena infeksi yang parah, tabib menawarkan minuman bius agar ia tidak merasakan sakit. Urwah menolak tegas, “Aku tidak akan menggunakan yang haram demi mendapat kesehatan.” Tabib menawarkan bius biasa, ia tetap menolak: “Aku tidak mau diambil sebagian dari tubuhku tanpa kurasakan sakitnya agar tidak hilang pahalanya di sisi Allah.” Bimakota

Saat terbangun dari operasi, wajahnya bercucuran keringat. Sambil bertakbir dan bertahmid, ia mengambil potongan kakinya dan menciumnya, lalu berkata, “Sungguh Allah mengetahui aku tidak pernah menggunakanmu pada hal-hal yang haram, tempat maksiat, atau perbuatan yang tidak diridhai Allah.” Arina


Peran dalam Masyarakat

Ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai gubernur, usai shalat Zuhur ia memanggil sepuluh fuqaha Madinah yang dipimpin oleh Urwah bin Zubair. Khalifah berkata kepada mereka, “Saya tidak ingin memutuskan suatu masalah kecuali setelah mendengarkan pendapat Anda semua. Bila kalian melihat seseorang mengganggu orang lain atau pejabat yang melakukan kezaliman, saya mohon agar Anda sudi melaporkannya kepada saya.” Urwah bukan sekadar ulama yang dikurung di balik lembaran kitab — ia adalah penasihat negara yang suaranya menentukan arah kebijakan. NU Online


Pengaruhnya

Az-Zuhri pernah berkata, “Aku mendatangi Urwah, lalu duduk beberapa waktu di dekat pintunya. Seandainya aku mau masuk, niscaya aku telah masuk lalu pulang. Tetapi aku tidak masuk karena memuliakannya.” Seorang ulama besar seperti Az-Zuhri — yang ilmunya sudah diakui — masih duduk menunggu di luar pintu karena terlalu memuliakan Urwah. Itulah ukuran wibawa yang sesungguhnya. Detik Hikmah

Di antara murid-muridnya yang meriwayatkan hadis darinya adalah Ibnu Syihab Az-Zuhri, Umar bin Abdul Aziz, Amr bin Dinar, Yahya bin Abi Katsir, dan sejumlah ulama besar lainnya. Rantai keilmuan yang mengalir dari Urwah bin Zubair melalui Az-Zuhri dan Imam Malik terus mengalir hingga membentuk tradisi hadis dan fikih yang kita warisi hingga hari ini. Islampos


Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Pertama, seorang preneur Muslim yang sejati merawat asetnya untuk dibagikan, bukan untuk ditumpuk. Urwah membangun pagar bukan karena kikir — ia membangun pagar agar buahnya tumbuh sempurna, lalu meruntuhkannya sendiri agar semua orang bisa menikmatinya.

Kedua, mengelola harta dengan disiplin dan membaginya dengan lapang adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Seorang yang tidak disiplin merawat tidak akan punya yang cukup untuk dibagi — dan seorang yang tidak mau membagi tidak layak disebut berhasil.

Ketiga, ujian terbesar seorang preneur bukan saat bisnisnya jatuh, melainkan saat tubuh dan jiwa ditimpa musibah sekaligus. Urwah kehilangan kakinya dan anaknya dalam satu perjalanan — namun ia bertahmid, mencium kakinya yang terpotong, dan kembali ke kehidupannya tanpa mengeluh.

Keempat, harta yang paling produktif adalah harta yang dikelola dengan dzikir. Setiap kali memasuki kebunnya, Urwah mengulang ayat Al-Kahfi — pengingat bahwa ia bukan pemilik sejati, melainkan penjaga amanah dari Allah yang bisa diambil kapan saja.


Sumber: Kisah Muslim — “Urwah bin Zubair”; Al-Hikmah — “Urwah bin Zubair, Kakinya Diamputasi, Menolak Khamar dan Bius”; Sekolah Akhirat — “Biografi Urwah bin Az-Zubair Terlengkap”; Hati Senang — “Urwah bin Az-Zubair, Orang yang Mulia dan Murah Hati” (bersumber dari buku Kisah Para Tabi’in); Biografi Tokoh Ternama — “Biografi Urwah bin Az-Zubair, Tabi’in yang Sabar Ketika Kakinya Diamputasi”; SalamWeb — “Ujian Kesabaran Urwah bin Zubair”; Atsar.id — “Biografi Urwah bin Zubair”.

Scroll to Top