Tafsir Tematik Klasik: Hakikat Taqwa
Ahmad Asmu’I nst
Santri Ruhama Al Fajar
1.QS.Al-Baqarah: 2-5
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ ۙ ٢الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۙ ٣وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ ۗ ٤اُولٰۤىِٕكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ٥
Artinya: Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,(2)
(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(3)
dan mereka yang beriman pada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Nabi Muhammad) dan (kitab-kitab suci) yang telah diturunkan sebelum engkau dan mereka yakin akan adanya akhirat.(4)
Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.(5)
Di tafsir jalalain:
{ ذٰلِكَ } أي هذا { ٱلْكِتَٰبُ } الذي يقرؤه محمد { لاَ رَيْبَ } لا شك { فِيهِ } أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم { هُدًى } خبر ثانٍ أي هاد { لّلْمُتَّقِينَ } الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي لاتقائهم بذلك النار. { ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ } يصدِّقون { بِٱلْغَيْبِ } بما غاب عنهم من البعث والجنة والنار { وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلوٰةَ } أي يأتون بها بحقوقها { وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ } أعطيناهم { يُنفِقُونَ } في طاعة الله. { وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ } أي القرآن { وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ } أي التوراة والإنجيل وغيرهما { وَبِٱلأْخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ } يعلمون. { وَٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ } أي القرآن { وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ } أي التوراة والإنجيل وغيرهما { وَبِٱلأْخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ } يعلمون.
Terjemahan Tafsir: “Kitab itu” yaitu Al-Qur’an yang dibaca oleh Nabi Muhammad ﷺ, “tidak ada keraguan di dalamnya,” yaitu tidak ada keraguan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah. Penyebutan “kitab itu” menunjukkan kemuliaan dan keagungannya.
“Sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa,” yaitu orang-orang yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya agar mereka terhindar dari neraka.
“Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib,” yaitu membenarkan perkara-perkara yang tidak dapat mereka lihat, seperti kebangkitan, surga, dan neraka.
“Mereka mendirikan salat,” yaitu melaksanakan salat dengan memenuhi hak dan ketentuannya.
“Dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka,” yaitu membelanjakannya dalam ketaatan kepada Allah.
“Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu,” yaitu Al-Qur’an, “dan apa yang diturunkan sebelum kamu,” yaitu Taurat, Injil, dan kitab-kitab lainnya.
“Dan mereka yakin terhadap kehidupan akhirat.” Maksudnya, mereka benar-benar mengetahui dan meyakini adanya kehidupan akhirat serta kepastiannya.
Kesimpulan Tafsir
Tafsir ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang benar-benar berasal dari Allah dan tidak memiliki keraguan di dalamnya. Al-Qur’an menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Ciri-ciri orang yang mendapat petunjuk tersebut adalah beriman kepada perkara gaib, seperti kebangkitan, surga, dan neraka; mendirikan salat dengan baik; menginfakkan sebagian rezeki dalam ketaatan kepada Allah; serta beriman kepada Al-Qur’an dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya.
2.QS.Ali-imran:102
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.
Di tafsirkan Pada kitab Jalalain:
{ يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ } (بأن يُطاع فلا يُعصى ويُشكر فلا يُكفر ويُذكر فلا يُنسى) فقالوا يا رسول الله ومن يقوى على هذا؟ فنسخ بقوله تعالى { { فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسْتَطَعْتُمْ } [16:64] { وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ } موحدون.
Artinya: { Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa }—artinya: Dia ditaati dan tidak dimaksiati, disyukuri dan tidak diingkari, serta diingat dan tidak dilupakan. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang mampu melakukan hal ini?” Maka, ketentuan itu dihapus (dinaskh) oleh firman Allah Yang Mahaperkasa: { Maka bertakwalah kepada Allah semampu kalian } [64:16]. { Dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan sebagai Muslim }—yakni, sebagai orang-orang yang mengesakan-Nya.
Kesimpulan tafsir:
Tafsir ini menjelaskan bahwa Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, dan selalu mengingat-Nya tanpa melupakan-Nya.
Ketika para sahabat merasa bahwa menjalankan semua itu sangat berat, ketentuan tersebut dijelaskan dengan perintah agar manusia bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan mereka. Selain itu, Allah memerintahkan agar manusia tidak meninggal dunia kecuali dalam keadaan Muslim, yaitu tetap beriman dan bertauhid kepada-Nya.
3.QS.Al-Hujurat:13
ٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ١٣
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.
Ditafsirkan pada kitab jalalain:
{ يَٱأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مّن ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ } آدم وحوّاء { وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوباً } جمع شعب بفتح الشين هو أعلى طبقات النسب { وَقَبَآئِلَ } هي دون الشعوب وبعدها العمائر ثم البطون ثم الأفخاذ ثم الفصائل آخرها مثاله خزيمة: شعب، كنانة قبيلة. قريش عِمارة بكسر العين قصيّ:بطن، هاشم فخذ. العباس فصيلة { لِتَعَارَفُواْ } حذف منه إحدى التاءين ليعرف بعضكم بعضا لا لتفاخروا بعلوّ النسب، وإنما الفخر بالتقوى { إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ ٱللَّهِ أَتْقَٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ } بكم { خَبِيرٌ } ببواطنكم.
Artinya: { Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan }—yaitu Adam dan Hawa—{ dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa }—*shu‘ūb* (bentuk jamak dari *sha‘b*) mewakili tingkatan silsilah tertinggi—{ dan bersuku-suku }—*qabā’il* (suku-suku) adalah tingkatan di bawah *shu‘ūb*; setelahnya adalah *‘amā’ir* (klan), kemudian *buṭūn* (sub-klan), lalu *afkhādh* (garis keturunan), dan terakhir *faṣā’il* (keluarga). Contoh dari urutan ini adalah: Khuzaima adalah *sha‘b*; Kinana adalah *qabīla*; Quraisy adalah *‘imāra*; Qusayy adalah *baṭn*; Hasyim adalah *fakhdh*; dan Al-‘Abbas adalah *faṣīla*—{ agar kalian saling mengenal }—salah satu dari dua huruf *tā’* dihilangkan di sini; maknanya adalah agar kalian saling mengenali dan mengetahui satu sama lain, bukan untuk menyombongkan kemuliaan nasab, karena kehormatan sejati terletak pada ketakwaan—{ Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui }—tentang kalian—{ lagi Maha Mengenal }—akan batin kalian yang terdalam.
Kesimpulan Tafsir
Tafsir ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan seluruh manusia dari Nabi Adam dan Hawa, kemudian menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal satu sama lain, bukan untuk saling membanggakan keturunan atau merendahkan orang lain.
Allah menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi-Nya tidak ditentukan oleh asal-usul, suku, bangsa, atau keturunannya, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu tentang manusia dan Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati mereka.